"Heart of Aper_Runia"

Foto Saya
Stay Cool and Stay Humble... I'll be what I believe :O

21.4.12

Menjadi Pribadi Pemaaf

Abu Bakar as - Shiddiq dikenal sebagai sahabat Nabi SAW yang berkepribadian keras. Tetapi ada satu hal yang sering dilupakan adalah bahwasanya Abu Bakar juga memiliki kegemaran lain yang sangat bertolak belakang dengan sifatnya yang satunya, yaitu gemar bersedekah. Terutama kepada mereka - mereka yang masih memiliki hubungan kekerabtan dengannya. Satu di antaranya adalah anak bibinya yang bernama Misthah bin Utsatah. Sayangnya Misthah kurang berhati - hati menjaga lidahnya. Pernah pada suatu waktu beredar kabar bahwa 'Aisyah binti Abu Bakar telah berselingkuh, Misthah ikut serta menyebarkan kabar tersebut. Sehingga ketika turun ayat yang menjelaskan bahwa tuduhan itu merupakan tuduhan bohong semata (fitnah), Abu Bakar sangat murka kepada Misthah serta bersumpah tidak akan berbuat baik dan memberi bantuan nafkah kepadanya.

Namun rupanya Allah SWT tidak menyukai sikap Abu Bakar yang seperti ini. Allah SWT kemudian memberikan teguran kepada Abu Bakar dan siapa saja yang bersumpah tidak akan berbuat baik kepada orang lain. Teguran itu disampaikan melalui firman - Nya yang disampaikan kepada Rasullullah SAW. Dalam firman - Nya tersebut, selain memberikan perintah kepada hanba - hamba - Nya untuk memberikan maaf dan kelonggaran serta tetap memberikan nafkah kepada orang yang biasa di bantu untuk melanggengkan silaturahim serta kebaikan yang sebelumnya telah terbentuk. Setelah mendengar firman yang Allah SWT sampaikan melalui Nabi SAW tersebut maka Abu Bakar pun merasa berdosa, menyesal, serta berjanji semampunya untuk tetap memberikan santunan kepada Misthah sebagaimana yang dulu pernah dia lakukan sebelumnya.

Ketika ada seseorang yang mendzalimi kita secara naluri kita akan marah dan akan berusaha untuk membalas kedzaliman itu. Bahkan ada yang suka membalas kedzaliman itu dengan berlebihan. Tentu sikap ini akan membawa dampak negatif baik bagi pribadi bersangkutan maupun masyarakat secara luas bila hal ini tidak dihilangkan dari diri kita. Agar kehidupan ini tenang dan tentram maka sikap yang hanya ingin memperturutkan nafsu tersebut harus diganti dengan sikap mulia yang telah islam ajarkan melalui Rasullulah SAW, yaitu sikap memaafkan. Jika masing - masing pihak memiliki sifat memaafkan ini maka konflik yang terjadi akan reda denga sendirinya bahkan dapat berakhir tanpa meninggalkan benih - benih dendam lagi. Dalam sebuah hadist Rasullullah SAW bersabda, "Sesungguhnya ada dua hal di dalam dirimu yang dicintai Allah SWT.Kedua hal tersebut adalah lemah lembut dan tidak mudah marah." (HR. Ahmad)

Untuk menjadi pribadi pemaaf memang tidak mudah. Apalagi jika luka hati yang telah terbentuk terlanjur menganga dan sangat dalam. Dalam keadaan seperti ini kadang yang muncul adalah perasaan dendam dan berharap kejelekan terhadap orang yang telah melukai fisik dan hati. Sehingga jangankan mendoakan kebaikan, memaafkan kesalahannya saja masih sangat berat. Keengganan untuk memberi maaf akan semakin menguat manakala kesempatan menuntut balas terbuka lebar di hadapan. Ditambah dengan status sosial kita yang jauh lebih tinggi daripada orang yang telah membuat kita luka tersebut. Maka pembalasan dendam tidak akan terelakkan lagi.

Untuk bisa memaafkan orang yang telah berbuat zalim kepada kiat butuh kebesaran jiwa dan kelapangan hati. Jika seseorang mampu memberikan maaf meski dia berada pada pihak yang benar dan memiliki status sosial yang lebih tinggi ketimbang orang yang berbuat jahat kepadanya, maka itulah tanda kemuliaan dan ketaqwaan dirinya. Karena satu diantara tanda orang bertaqwa adalah tidak berat untuk memaafkan kesalahan orang lain. Memang dalam syariat islam diperbolehkan untuk menuntut balas terhadap kejahatan yang ditimpakan kepada kita dengan balasan yang setimpal. Namun alangkah lebih baik bagi kita untuk memaafkan kesalahan orang tersebut. Karena perbuatan itu jauh lebih mulia daripada hanya sekedar membalas meski dengan balasan yang serupa. Kita tidak akan tahu seberapa ukuran yang tepat untuk membalas perbuatan orang lain karena standar manusia itu berbeda, kita juga tidak akan pernah tahu alasan orang tersebut melakukan sesuatu yang membuat kita sakit hati seperti ini, kita juga tidak tahu maksud dan tujuan Allah SWT memberikan kita kenyataan seperti itu. Secara wajar orang tidak akan mau untuk disakiti, maka dengan demikian orang tersebut juga tidak akan menyakiti. Maka salah satu hadist Rasullullah SAW berikut ini dapat dijadikan bahan renungan bagi kita semua: "Siapa yang memberi kelonggaran orang yang susah niscaya Allah SWT akan memberikan kelonggaran baginya di dunia dan akhirat." (HR. Muslim)

Sesungguhnya Allah SWT memiliki sifat - sifat mulia yang pantas untuk kita teladani. Dan pemaaf merupakan salah satu sifat tersebut. Maka sangat tidak pantas bagi kita makhluk hina yang biasa untuk tidak memberikan maaf kepada sesama makhluk yang telah menyakiti kita tersebut baik sengaja maupun tidak. Dari Uqbah bin Amir, dia berkata, "Rasullullah SAW bersabda: 'Wahai Uqbah bagaimana jika aku beritahukan kepadamu tentang akhlaq penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah kamu menyambung silaturahim dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi kepada orang yang tidak memberimu, dan maafkanlah orang yang telah mendzalimimu.'" (HR. Ahmad, Al - Hakim, dan Al - Baghawi)

Apakah menjadi pemaaf itu susah? Terpenting kita berusaha untuk bisa menjadi pemaaf sembari memohon ampun atas segala dosa - dosa kita. Seseorang berkata kepada Rasullullah SAW, "Ya Rasullullah sesungguhnya aturan islam terasa banyak bagiku dan aku khawatir tidak dapat untuk melaksanakan semuanya. Maka ajarkan kepadaku ya Rasullullah SAW agar aku bisa menutupi kekuranganku tersebut." Kemudian Rasullullah SAW menasehatinya, "Kalau kamu ingin menutupi kekuranganmu maka basahilah selalu lidahmu dengan berdzikir kepada Allah SWT." (HR. Tirmidzi dan Ibn Majah)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar