Semua orang tentu berharap kemenangan, bukan kekalahan. Untuk meraihnya berbagai upaya dan sumber daya dipersiapkan. Perjuangan dan pengorbanan pun siap dikerahkan semuanya demi merebut kemenangan. Sesekali orang tentu pernah merebut kemenangan yang besar atau kecil dalam momen yang berbeda - beda. Saat kemenangan diraih, biasanya muncul rasa bangga.
Tetapi tidak semua orang menyikapi sebuah kemenangan dengan sangat bangga. Ada seseorang yang menyikapinya bukan dengan sorak sorai. Padahal kemenangan yang diperolehnya tersebut bukanlah sembarnag kemenangan. Setelah ia dapat mengambil kerajaan lainnya, ia tidak kehilangan kendali sama sekali. Bukan kebanggan yang menyeruak tetapi justru rasa takut dan khawatir. Begitu melihat singgasana lawannya itu telah berada di hadapannya, ia pun berkata, "Ini termasuk karunia Tuhanku yahg mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat - Nya)." (27: 40)
Kemenangan baginya adalah cobaan dari Allah SWT apakah dirinya termasuk hamba yang bersyukur atau hamba yang kufur nikmat. Dia adalah raja yang kaya raya sekaligus rasul yang sungguh mulia, Sulaiman 'Alaihis-salam. Di tengah gaya hidup yang cenderung mengagungkan dunia dan membesarkan ego tampaknya kita perlu belajar menyikapi kemenangan dengan lebih bijak. Betapa banyak orang yang mendapat kemenangan karena salah bersikap justru menjadi lupa diri dan terjerumus dalam kehinaan. Hanya kemengan yang disyukuri secara benar saja yang berbuah kemuliaan yang hakiki.
Merujuk pada Imam Al - Ghazali, ekspresi syukur meliputi tiga hal:
1. Ilmu
Seluruh kemenangan yang kita peroleh tersebut atas ijin Allah SWT. Secara keilmuan ia menyadari dan sadar bahwa pemberi kemenangan adalah Allah SWT. Imam Al - Ghazali menjadikan hal ini sebagai bagian rasa syukur yang pertama. Karena itu yang mesti diingat pertama kali saat meraih kemenangan adalah Allah SWT.
Ingat kepada Allah SWT inilah yang diteladani secara sempurna oleh Nabi Sulaiman a.s. saat dapat mengambil tahta ratu Bilqis. Ia tidak kehilangan kesadarannya. Yang pertama kali diucapkan bukan "Inilah aku", tetapi "Ini termasuk karunia Tuhanku." Padahal dengan merebut tahta tersebut sang Nabi memiliki kekuasaan tiada terkira di wilayah yang dulu menjadi musuhnya tersebut. Bila tahta sebagai tujuan mendapat kemenangan seperti Nabi Sulaiman a.s., tentu akan membusungkan dada. Namun Nabi Sulaiman a.s. sadar karunia dunia ini adalah ujian semata. Dia bukan pertanda kemuliaan. Kemenangan yang membuat seorang menjadi sombong, justru menjadikannya terhina di hadapan Allah SWT.
2. Rasa Senang
Seseorang yang mendapatkan kemenangan tentu akan merasa senang hatinya. Namun rasa senang ini bisa membuat orang lupa diri bila tak terkendali. Kita senang mendapatkan kemenangan, tetapi ingatlah selalu bahwa tujuan tertinggi kita bukanlah dunia ini. Kita terima dengan suka cita segala pemberiannya. Imam Asy - Syibli mengatakan bahwa syukur bukan melihat pemberian, tetapi lebih melihat Yang Maha Memberi. Imam Al - Ghazali menempatkan ini sebagai bagian kedua dari rasa syukur. Yaitu secara afeksi ada keadaan hati yang senang kepada Allah SWT.
Seseorang yang lebih mencintai karunia daripada pemberinya berarti ia telah tertipu dengan dunia. Perjalanannya menuju Allah SWT telah terhalang dunia. Padahal dunia ini fana, dan kita semua akan meninggalkan semuanya. Dan sang Nabi Sulaiman a.s. sama sekali tidak tertipu oleh harta dunia yang telah diperolehnya dari Ratu Bilqis. Saat utusan sang ratu menghadiahi harta yang banyak tetapi dengan syarat sang nabi menghentikan agresinya, Nabi Sulaiman a.s. menolaknya. Ia merasa Allah SWT telah memberikan yang lebih baik daripada itu.
3. Kegunaan
Seseorang yang menganggap kemenangan itu hanya semata dari dirinya akan menggunakan karunia itu hanya demi kepuasan dan kebanggaan dirinya saja. Seperti inilah sikap Qarun, ia merasa hartanya yang banyak itu semata karena ilmunya. Ia merasa tak perlu untuk berinfaq atau berzakat kepada yang membutuhkan.. Ia merasa telah mendapat kemuliaan dari hartanya yang banyak itu. Padahal dengan tidak melaksanakan perintah Allah SWT justru kufur nikmatlah yang Qarun terima di dunia ini terlebih di alam nanti.
Kadang orang menganggap dengan mendapat harta dan tahta dirinya otomatis mulia. Padahal hakikatnya semua itu hanyalah cobaan Allah SWT kepada hamba - hamba terpilih - Nya. Bila ia mendapatkan dengan cara halal dan menggunakannya di jalan Allah, tentulah mendapatkan kemuliaan. Inilah aspek ketiga syukur menurut Imam Al - Ghazali. Tetapi bila karunia digunakan untuk kesombongan, jelaslah akan mendapat kehinaan bahkan meski cara mendapatkannya secara halal. Tetapi jika lupa amal ibadahnya, pertanggung jawaban Allah SWT menanti di alam nanti.
"Heart of Aper_Runia"
2.10.13
1.10.13
Dzikir Cinta: "...Izinkan Aku Mencintaimu..."
Disadur dari: www.facebook.com/DzikirCinta/posts/645845778767525
Bismillahir-Rahmaaniir-Rahiim...
Alkisah di suatu daerah terdapat seorang dara yang cantik jelita serta muslimah. Wanita idaman bagi setiap pria yang mengenalnya. Fatimah namanya... Anak seorang terpandang di kampungnya. Selama tiga tahun terakhir, Fatimah memperdalam ilmu agama dan belajar mengaji pada seorang ulama besar yang cukup ternama di daerahnya. Setelah ia menyelesaikan studinya, Fatimah yang semakin terlihat cantik jelita kembali pulang untuk mengabdikan ilmu yang selama ini dipelajarinya.
Fatimah menyadari tugasnya sebagai seorang muslimah, sebagai seorang khalifah, serta sebagai seorang wanita ia pun kembali memasuki kehidupan masyarakat luar. Orang - orang yang memandangnya tak ubahnya seperti sekuntum mawar putih yang tumbuh di antara rumput ilalang. Semua lelaki memujanya. Gadis percampuran darah Belanda dan Indonesia yang dimilikinya membuat ia laksana Monalisa Abad XI yang tampak nyata dan ia hidup. Jika ada orang yang mengatakan bahwa tidak ada bidadari di dunia ini, maka hal itu tidak sepenuhnya benar. Karena Fatimah adalah salah satu bukti nyatanya.
Ulama - ulama dari seberang pulau seringkali datang melamarnya. Bahkan tak jarang sahabat ayahnya sendiri yang mencoba melamar Fatimah untuk anak laki - lakinya. Tetapi ayah Fatimah yang memiliki hati yang teduh itu menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada anaknya. Tetapi sebagai seorang anak yang shalihah, Fatimah justru menyerahkan hal sakral tersebut kepada ayahandanya. Menurutnya, sang ayah tahu apa yang terbaik baginya.
Fatimah sangat mengagumi ayahnya karena beliau adalah lelaki pertama yang dikenal dalam hidupnya. Seorang lelaki yang bertanggung jawab, selalu tersenyum kepada meski dalam keadaan marahnya pun, ia adalah lelaki yang selalu mengutamakan ibadah kepada Allah SWT. Bahkan Fatimah seringkali berucap, "Jika Allah SWT mendatangkan seseorang untuk menemani hidupku, biarlah ia seperti ayahku."
Tak diduga dan tak dinyana, tanpa sepengetahuan Fatimah ternyata sang ayahanda diam - diam telah menjodohkannya dengan anak seorang ulama besar yang juga merupakan sahabat baiknya. Fatimah terkejut dan tak percaya saat ayahnya menyampaikan maksud perjodohan itu, karena ia tahu betul bagaimana akhlaq pemuda itu. Di mata Fatimah - dan memang yang terlihat di muka umum - sang pemuda dikenal gemar sekali melakukan berbagai macam kemaksiatan seperti minum - minuman keras, berjudi, berzinah, bahkan gemar sekali melalaikan perintah agama. Sungguh sebuah ironi untuk seorang pemuda dengan latar belakang sepertinya.
Setelah pernikahan tersebut, hari - hari ia lalui dengan bersujud kepada Allah SWT. Ia memohon petunjuk kepada Allah SWT agar diberikan yang terbaik. Fatimah yakin bahwa Allah SWT akan membantunya, karena ia tak ingin menjadi durhaka dengan membantah perintah sang ayah. Meskipun pada saat - saat itu seringkali di hantui dengan mimpi buruk dan itu yang membuatnya semakin resah dan gelisah, bingung, dan tak tahu apa yang harus dilakukan berikutnya. Karena Fatimah memiliki prinsip dalam hidup, "Tujuan hidupnya hanyalah untuk membahagiakan ayahnya apapun keputusannya, jadi bagaimana tega dia menolaknya?"
Dan, hari pernikahanpun tiba... Dengan berat hati akhirnya Fatimah memutuskan untuk menerima pinangan teman sang ayahandanya tersebut. Karena terkejut dan tertekannya, Fatimah sampai pingsan saat hari pernikahannya. Ia masih tidak mempercayai bahwa pernikahannya telah terjadi. Namun keresahan itu juga terjadi pada pasangannya tanpa Fatimah ketahui. Ikhsan, nama sang pemuda tersebut dadanya bergetar hebat saat mengucapkan ijab. Ia tak kuasa akan pesona Fatimah yang entah bagaimana kini akan menjadi pasangan hidupnya. "Benarkah aku layak menjadi suaminya? Fatimah terlalu baik untukku, sedangkan aku? Tak ada satupun amalan yang bisa aku banggakan di hadapannya. Apakah ini semua nyata?" Pikiran - pikiran seperti itu selalu menggelayut hebat di dalam pikirannya semenjak dia berangkat dari rumah.
Tanpa sepengetahuan Fatimah, Ikhsan diam - diam beranjak dari kasurnya dan melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan olehnya seumur hidupnya: Sholat! Dalam sholatnya ia bersujud panjang dan bersyukur tak habisnya atas karunia yang telah Allah SWT berikan meski maksiat kerap kali dilakukannya. Dalam sujud panjangnya ia selalu berdoa, "Ya Allah... Kasihanilah aku, ampunilah aku, bantulah aku... Ya Allah... Apakah betul zamrud biru nan indah itu milikku? Aku tidak berani sedikitpun untuk menyentuhnya, karena aku sangat tak layak untuknya..."
Waktu malam Ikhsan berlalu dalam doa dan kesungguhan, tak terhitung sudah berapa malam hal itu terjadi. Sehingga hari - hari berganti dengan sebuah perubahan yang dahsyat. Kini Ikhsan telah berubah. Ia telah meninggalkan kebiasaan buruknya terdahulu, dan hebatnya Fatimah tidak mengetahui hal itu dengan baik.
Gadis nan indah itu telah merubah pandangannya tentang hidup hingga ia mampu meninggalkan tabiat buruknya terdahulu. Hingga pada suatu malam entah kenapa Ikhsan membulatkan diri untuk melakukan suatu hal "Gila". Untuk itu, Ikhsan membutuhkan persetujuan Allah SWT dengan berdoa di masjid.
Pada suatu malam saat Fatimah terbangun untuk melaksanakan sholat tahajud seperti biasanya, Fatimah menyadari bahwa Ikhsan tidak ada di dalam kamarnya. Setelah mencari di seantero rumah Fatimah tidak mendapati sang suami ada. Tak lama kemudian segera Fatimah mengenakan pakaian yang pantas. Dia bergegas untuk mencari suaminya keluar rumah. Pikiran Fatimah berkecamuk tentang Ikhsan - suaminya - yang akan mengulangi kebiasaan - kebiasaan buruknya terdahulu.
Bismillahir-Rahmaaniir-Rahiim...
Alkisah di suatu daerah terdapat seorang dara yang cantik jelita serta muslimah. Wanita idaman bagi setiap pria yang mengenalnya. Fatimah namanya... Anak seorang terpandang di kampungnya. Selama tiga tahun terakhir, Fatimah memperdalam ilmu agama dan belajar mengaji pada seorang ulama besar yang cukup ternama di daerahnya. Setelah ia menyelesaikan studinya, Fatimah yang semakin terlihat cantik jelita kembali pulang untuk mengabdikan ilmu yang selama ini dipelajarinya.
Fatimah menyadari tugasnya sebagai seorang muslimah, sebagai seorang khalifah, serta sebagai seorang wanita ia pun kembali memasuki kehidupan masyarakat luar. Orang - orang yang memandangnya tak ubahnya seperti sekuntum mawar putih yang tumbuh di antara rumput ilalang. Semua lelaki memujanya. Gadis percampuran darah Belanda dan Indonesia yang dimilikinya membuat ia laksana Monalisa Abad XI yang tampak nyata dan ia hidup. Jika ada orang yang mengatakan bahwa tidak ada bidadari di dunia ini, maka hal itu tidak sepenuhnya benar. Karena Fatimah adalah salah satu bukti nyatanya.
Ulama - ulama dari seberang pulau seringkali datang melamarnya. Bahkan tak jarang sahabat ayahnya sendiri yang mencoba melamar Fatimah untuk anak laki - lakinya. Tetapi ayah Fatimah yang memiliki hati yang teduh itu menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada anaknya. Tetapi sebagai seorang anak yang shalihah, Fatimah justru menyerahkan hal sakral tersebut kepada ayahandanya. Menurutnya, sang ayah tahu apa yang terbaik baginya.
Fatimah sangat mengagumi ayahnya karena beliau adalah lelaki pertama yang dikenal dalam hidupnya. Seorang lelaki yang bertanggung jawab, selalu tersenyum kepada meski dalam keadaan marahnya pun, ia adalah lelaki yang selalu mengutamakan ibadah kepada Allah SWT. Bahkan Fatimah seringkali berucap, "Jika Allah SWT mendatangkan seseorang untuk menemani hidupku, biarlah ia seperti ayahku."
Tak diduga dan tak dinyana, tanpa sepengetahuan Fatimah ternyata sang ayahanda diam - diam telah menjodohkannya dengan anak seorang ulama besar yang juga merupakan sahabat baiknya. Fatimah terkejut dan tak percaya saat ayahnya menyampaikan maksud perjodohan itu, karena ia tahu betul bagaimana akhlaq pemuda itu. Di mata Fatimah - dan memang yang terlihat di muka umum - sang pemuda dikenal gemar sekali melakukan berbagai macam kemaksiatan seperti minum - minuman keras, berjudi, berzinah, bahkan gemar sekali melalaikan perintah agama. Sungguh sebuah ironi untuk seorang pemuda dengan latar belakang sepertinya.
Setelah pernikahan tersebut, hari - hari ia lalui dengan bersujud kepada Allah SWT. Ia memohon petunjuk kepada Allah SWT agar diberikan yang terbaik. Fatimah yakin bahwa Allah SWT akan membantunya, karena ia tak ingin menjadi durhaka dengan membantah perintah sang ayah. Meskipun pada saat - saat itu seringkali di hantui dengan mimpi buruk dan itu yang membuatnya semakin resah dan gelisah, bingung, dan tak tahu apa yang harus dilakukan berikutnya. Karena Fatimah memiliki prinsip dalam hidup, "Tujuan hidupnya hanyalah untuk membahagiakan ayahnya apapun keputusannya, jadi bagaimana tega dia menolaknya?"
Dan, hari pernikahanpun tiba... Dengan berat hati akhirnya Fatimah memutuskan untuk menerima pinangan teman sang ayahandanya tersebut. Karena terkejut dan tertekannya, Fatimah sampai pingsan saat hari pernikahannya. Ia masih tidak mempercayai bahwa pernikahannya telah terjadi. Namun keresahan itu juga terjadi pada pasangannya tanpa Fatimah ketahui. Ikhsan, nama sang pemuda tersebut dadanya bergetar hebat saat mengucapkan ijab. Ia tak kuasa akan pesona Fatimah yang entah bagaimana kini akan menjadi pasangan hidupnya. "Benarkah aku layak menjadi suaminya? Fatimah terlalu baik untukku, sedangkan aku? Tak ada satupun amalan yang bisa aku banggakan di hadapannya. Apakah ini semua nyata?" Pikiran - pikiran seperti itu selalu menggelayut hebat di dalam pikirannya semenjak dia berangkat dari rumah.
Tanpa sepengetahuan Fatimah, Ikhsan diam - diam beranjak dari kasurnya dan melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan olehnya seumur hidupnya: Sholat! Dalam sholatnya ia bersujud panjang dan bersyukur tak habisnya atas karunia yang telah Allah SWT berikan meski maksiat kerap kali dilakukannya. Dalam sujud panjangnya ia selalu berdoa, "Ya Allah... Kasihanilah aku, ampunilah aku, bantulah aku... Ya Allah... Apakah betul zamrud biru nan indah itu milikku? Aku tidak berani sedikitpun untuk menyentuhnya, karena aku sangat tak layak untuknya..."
Waktu malam Ikhsan berlalu dalam doa dan kesungguhan, tak terhitung sudah berapa malam hal itu terjadi. Sehingga hari - hari berganti dengan sebuah perubahan yang dahsyat. Kini Ikhsan telah berubah. Ia telah meninggalkan kebiasaan buruknya terdahulu, dan hebatnya Fatimah tidak mengetahui hal itu dengan baik.
Gadis nan indah itu telah merubah pandangannya tentang hidup hingga ia mampu meninggalkan tabiat buruknya terdahulu. Hingga pada suatu malam entah kenapa Ikhsan membulatkan diri untuk melakukan suatu hal "Gila". Untuk itu, Ikhsan membutuhkan persetujuan Allah SWT dengan berdoa di masjid.
Pada suatu malam saat Fatimah terbangun untuk melaksanakan sholat tahajud seperti biasanya, Fatimah menyadari bahwa Ikhsan tidak ada di dalam kamarnya. Setelah mencari di seantero rumah Fatimah tidak mendapati sang suami ada. Tak lama kemudian segera Fatimah mengenakan pakaian yang pantas. Dia bergegas untuk mencari suaminya keluar rumah. Pikiran Fatimah berkecamuk tentang Ikhsan - suaminya - yang akan mengulangi kebiasaan - kebiasaan buruknya terdahulu.
Entah kenapa Fatimah mendapati bayangan Ikhsan menjauh di kegelapan malam di depannya. Tak harus menunggu lama, Fatimah segera menyusul bayangan suaminya tersebut kemanapun dia pergi malam itu. Tak Fatimah duga sebelumnya, ternyata sang suami masuk ke dalam masjid! Fatimah tak percaya atas apa yang ia lihatnya saat ini. Ia mengendap - endap mengintip tentang apa yang dilakukan sang suami di masjid malam itu. Ia melihat sang suami berdoa dengan meniti air mata dan meratap kepada Allah SWT.
"Ya Allah... Aku bersyukur pada - Mu yang telah Engkau karuniakan seorang perempuan yang cantik, baik, dan sholihah. Setiap hari ia berbakti kepadaku, menyiapkan segalanya untukku, mencucikan bajuku, memasak untukku, menimba air untukku, membacakan kalam - Mu untuk menyadarkanku dari khilafku yang teramat sangat pada - Mu. Tetapi hamba belum menyentuhnya.
"Ya Allah... Hamba tak pantas melakukan itu semua. Dan hamba mengerti hal itu membuatnya terluka. Hidupku terlalu pekat oleh dosa - dosa pada - Mu di masa laluku. Tetapi Engkau memberikan hadiah yang sangat besar untuk hidupku. Kehadiran Fatimah di sampingku adalah karunia terbesar dari - Mu untukku. Maka dari itu ya Rabb... Fatimah tetap bersemi indah, bercahaya setiap waktu, damai dalam munajatnya kepada - Mu setiap waktu. Aku mohon ya Allah siapkan seorang suami yang setara dengannya. Dan Engkau pasti tak mau melukai hamba - Mu, Fatimah dengan membuatnya tersiksa bersuamikan hamba. Kabulkanlah ya Allah..."
Mendengar hal itu sontak hati Fatimah bergetar hebat. Ia menangis dan bersujud di depan pintu masjid. Hal itu membuat Ikhsan kaget bukan kepalang. "Akulah yang berdosa... Akulah yang berdosa.... Aku telah menyimpan pikiran buruk bagi hamba - Mu yang mulia. Yang telah Engkau tunjuk menjadi suamiku. Ampunilah hamba ya Allah... Bisikkan ke dalam hatinya bahwa aku mohon maaf dan betapa aku mengagumi, mencintai, dan mengharapkannya... Ya Allah... Izinkanlah ia menjadi suamiku" sambar Fatimah.
Isak tangis yang ditahannya sejak tadi kini meledak, memecah keheningan. Sambil menangis ia merangkak menghampiri suaminya. Ikhsan terperangah, "Apakah Fatimah mendengar doaku?" pikirnya. Hal itu membuat Ikhsan juga ikut tak mampu menggerakkan seluruh sendinya karena Fatimah telah berada dihadapannya dan memeluk erat tubuhnya. Ia tak percaya... Sungguh sangat tidak percaya! Tangannya bergetar saat pertama kalinya membelai kepala sang istri tercinta. Hati dan matanya kini juga semakin basah akan air mata.
"Mas, jangan tinggalkan Fatimah! Mengapa mas Ikhsan berniat seperti itu? Aku adalah istrimu mas, selamanya akan menjadi istrimu. Jangan pernah berpikir seperti itu lagi" suara Fatimah memecah keheningan malam itu. Lalu Fatimah melanjutkan, "Kumohon jadilah suami, maafkanlah aku yang selama ini telah berpikir buruk kepadamu, Aku mencintaimu, mas..." Perlahan - lahan Ikhsan memeluk dengan lembut istrinya dengan segenap cinta, dan dengan lirih ia pun menjawab, "Ya Allah... Engkau datangkan lagi karunia yang besar untuk hamba - Mu ini, alhamdullillah..."
1.9.13
Syahadat: Sederhana dan Mengena
Jika kita melirik sejarah bagaimana para sahabat bersyahadat tentu akan memunculkan kekaguman yang luar biasa. Ambil contoh Bilal bin Rabah yang merupakan sahabat Nabi SAW dari kalangan budak. Begitu dia mendengar seruan islam dan seketika bersyahadat, ia pun menjadi seorang pemberani yang tangguh dan memiliki kepercayaan diri tinggi terhadap agamanya. Hal ini bisa dilihat dari keteguhan iman seorang Bilal saat disiksa secara sadis oleh majikannya, Umayyah bin Khalaf dengan ditindih batu besar di tengah terik mentari yang sangat menyengat. Bilal yang secara psikologis sangat lemah karena status budaknya kini berubah menjadi pribadi yang tahan banting dan tak pernah putus asa akan segala sesuatunya.
Demikian juga Ali bin Abi Thalib r.a. yang bersyahadat saat berumur delapan tahun. Ia tumbuh menjadi pemuda pemberani, tangguh, serta cerdas luar biasa. Ketika Rasullullah SAW hendak hijrah bersama Abu Bakar ke Yastrib, Ali adalah orang yang ditugaskan untuk tidur di pembaringan Rasullullah SAW. Tanpa keraguan, Ali pun menyanggupi perintah yang beresiko kematian itu, Hal ini membuktikan kualitas keimanan Ali yang dimulai dari sebuah syahadat.
Dengan demikian bisa dipahami bahwa syahadat adalah sumber energi terbesar yang dimiliki umat islam untuk memanifestasikan iman dan islam secara keseluruhan. Dengan syahadat seorang muslim mampu menghadapi segala rintangan dan tantangan dengan optimisme tinggi, ikhtiar tanpa tepi, dan doa sepanjang waktu. Syahadat akan menjelma sebagai kekuatan besar manakala benar - benar mengantarkan jiwa seorang muslim pada ketundukan yang paripurna. Ketundukan yang tidak tercemari oleh kesombongan, keangkuhan, gengsi, apalagi sekedar ambisi. Tetapi murni ketundukan paripurna karena Allah SWT.
Jika kita pahami secara mendalam, hakikat syahadat adalah bentuk ikrar ketundukan paripurna yang didedikasikan hanya untuk taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Artinya jiwa raga kita siap untuk membawakan risalah islamiyah ini dengan sepenuh hati sebagai wujud nyata kehambaan kita kepada Allah SWT. Pengertian tersebut akan semakin menghujam kuat dalam diri manakala kita benar - benar memahami latar belakang diberlakukannya syahadat bagi setiap muslim. Berdasarkan catatan sejarah, syahadat hadir setelah wahyu pertama diturunkan kepada Rasullullah SAW.
Dalam wahyu pertama tersebut secara gamblang menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk dan Allah SWT adalah Sang Pencipta. Hal ini menunjukkan bahwa setiap muslim harus taat dan tunduk secara paripurna hanya kepada Allah SWT. Tanpa itu manusia pasti akan tersesat dari kebenaran hidup.
Demikian juga Ali bin Abi Thalib r.a. yang bersyahadat saat berumur delapan tahun. Ia tumbuh menjadi pemuda pemberani, tangguh, serta cerdas luar biasa. Ketika Rasullullah SAW hendak hijrah bersama Abu Bakar ke Yastrib, Ali adalah orang yang ditugaskan untuk tidur di pembaringan Rasullullah SAW. Tanpa keraguan, Ali pun menyanggupi perintah yang beresiko kematian itu, Hal ini membuktikan kualitas keimanan Ali yang dimulai dari sebuah syahadat.
Dengan demikian bisa dipahami bahwa syahadat adalah sumber energi terbesar yang dimiliki umat islam untuk memanifestasikan iman dan islam secara keseluruhan. Dengan syahadat seorang muslim mampu menghadapi segala rintangan dan tantangan dengan optimisme tinggi, ikhtiar tanpa tepi, dan doa sepanjang waktu. Syahadat akan menjelma sebagai kekuatan besar manakala benar - benar mengantarkan jiwa seorang muslim pada ketundukan yang paripurna. Ketundukan yang tidak tercemari oleh kesombongan, keangkuhan, gengsi, apalagi sekedar ambisi. Tetapi murni ketundukan paripurna karena Allah SWT.
Jika kita pahami secara mendalam, hakikat syahadat adalah bentuk ikrar ketundukan paripurna yang didedikasikan hanya untuk taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Artinya jiwa raga kita siap untuk membawakan risalah islamiyah ini dengan sepenuh hati sebagai wujud nyata kehambaan kita kepada Allah SWT. Pengertian tersebut akan semakin menghujam kuat dalam diri manakala kita benar - benar memahami latar belakang diberlakukannya syahadat bagi setiap muslim. Berdasarkan catatan sejarah, syahadat hadir setelah wahyu pertama diturunkan kepada Rasullullah SAW.
Dalam wahyu pertama tersebut secara gamblang menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk dan Allah SWT adalah Sang Pencipta. Hal ini menunjukkan bahwa setiap muslim harus taat dan tunduk secara paripurna hanya kepada Allah SWT. Tanpa itu manusia pasti akan tersesat dari kebenaran hidup.
Keimanan Untuk Keteladanan
Inilah Anas bin Malik r.a. seorang sahabat Nabi SAW suatu ketika bertutur, "Tidak ada satupun orang yang lebih dicintai sahabat Nabi selain Rasullullah SAW. Namun jika mereka melihat beliau, mereka tidak berdiri untuk menyambutnya karena mereka mengerti ketidaksukaan beliau terhadap hal itu." (HR. Tirmidzi)
Di negara tempat kita berpijak ini sulit sekali membayangkan ada seorang pemimpin yang kuat pengaruhnya, besar wibawanya, ditaati perintahnya dengan ringan hati, dan dinanti tutur katanya. Aparat negara maupun pimpinan masyarakat banyak yang justru sengaja menciptakan budaya penghormatan denu terbentuknya apa yang diangankan sebagai karakter dan patriotisme. Hari ini banyak sekali remaja - remaja maupun anak - anak kecil di didik untuk hormat kepada seorang pemimpin, tetapi yang patut kita sadari adalah tidak adanya kecintaan maupun ketaatan yang tumbuh dalam diri kepada para pemimpin tersebut.
Keteladanan Rasullullah SAW bukan sekedar manusia yang memiliki budi pekerti luhur. Pada dirinya ada kecintaan dan emoati yang luar biasa, sedemikian besarnya kecintaan itu sehingga penderitaan kita adalah penderitaan beliau juga. Ada keinginan yang sangat kuat untuk mengantarkan kita kepada keselamatan dan tidak ada keselamatan tanpa iman. Dan tidak bernilai iman jika tidak berpijak kepada aqidah yang lurus dan agama yang benar. Amat besar keinginan beliau agar kita meraih keselamatan dan kemuliaan, bahkan meskipun untuk itu ia dimusuhi dan disakiti.
Beliau melakukan semua itu bukan untuk meraih dunia yang beliau tidak perlu berlelah - lelah untuk meraihnya andaikata beliau menghendaki. Beliau juga bukan mengejar kekuasaan dan mahkota. Beliau berbuat begitu dengan tulus, melayani, penuh kecintaan, berjuang dengan sungguh - sungguh demi kita para umatnya. Dan justru karena itulah kita merasakan keagungannya tetap harum hingga detik ini.
Terasa betul dengan perbedaan yang sangat kentara dewasa ini. Jika agama hanya menjadi penghibur jiwa, maka sulit membayangkan terjadi perubahan mendasar pada mereka yang mendengar dan belajar. Jika para penyeru agama Allah SWT telah silau hatinya kepada kedudukan, gelar, sebutan, maka nyaris tak mungkin budaya karakter akan tumbuh. Prestasi muncul sebagai akibat, bukan tujuan.
Sesungguhnya tidaklah Rasullullah SAW diutus kecuali untuk membentuk akhlaq mulia, tetapi sepanjang pengetahuan saya Nabi SAW melandaasi segala perlakuannya kepada penanaman keyakinan yang kuat kepada Allah SWT dan tidak mempersekutukann-Nya. Membangun aqidah yang lurus, menempa mereka yang memiliki ketundukan total kepada Allah SWT melalui serangkaian ibadah, dan menafikan sesembahan selain Allah SWT.
Di negara tempat kita berpijak ini sulit sekali membayangkan ada seorang pemimpin yang kuat pengaruhnya, besar wibawanya, ditaati perintahnya dengan ringan hati, dan dinanti tutur katanya. Aparat negara maupun pimpinan masyarakat banyak yang justru sengaja menciptakan budaya penghormatan denu terbentuknya apa yang diangankan sebagai karakter dan patriotisme. Hari ini banyak sekali remaja - remaja maupun anak - anak kecil di didik untuk hormat kepada seorang pemimpin, tetapi yang patut kita sadari adalah tidak adanya kecintaan maupun ketaatan yang tumbuh dalam diri kepada para pemimpin tersebut.
Keteladanan Rasullullah SAW bukan sekedar manusia yang memiliki budi pekerti luhur. Pada dirinya ada kecintaan dan emoati yang luar biasa, sedemikian besarnya kecintaan itu sehingga penderitaan kita adalah penderitaan beliau juga. Ada keinginan yang sangat kuat untuk mengantarkan kita kepada keselamatan dan tidak ada keselamatan tanpa iman. Dan tidak bernilai iman jika tidak berpijak kepada aqidah yang lurus dan agama yang benar. Amat besar keinginan beliau agar kita meraih keselamatan dan kemuliaan, bahkan meskipun untuk itu ia dimusuhi dan disakiti.
Beliau melakukan semua itu bukan untuk meraih dunia yang beliau tidak perlu berlelah - lelah untuk meraihnya andaikata beliau menghendaki. Beliau juga bukan mengejar kekuasaan dan mahkota. Beliau berbuat begitu dengan tulus, melayani, penuh kecintaan, berjuang dengan sungguh - sungguh demi kita para umatnya. Dan justru karena itulah kita merasakan keagungannya tetap harum hingga detik ini.
Terasa betul dengan perbedaan yang sangat kentara dewasa ini. Jika agama hanya menjadi penghibur jiwa, maka sulit membayangkan terjadi perubahan mendasar pada mereka yang mendengar dan belajar. Jika para penyeru agama Allah SWT telah silau hatinya kepada kedudukan, gelar, sebutan, maka nyaris tak mungkin budaya karakter akan tumbuh. Prestasi muncul sebagai akibat, bukan tujuan.
Sesungguhnya tidaklah Rasullullah SAW diutus kecuali untuk membentuk akhlaq mulia, tetapi sepanjang pengetahuan saya Nabi SAW melandaasi segala perlakuannya kepada penanaman keyakinan yang kuat kepada Allah SWT dan tidak mempersekutukann-Nya. Membangun aqidah yang lurus, menempa mereka yang memiliki ketundukan total kepada Allah SWT melalui serangkaian ibadah, dan menafikan sesembahan selain Allah SWT.
Langganan:
Postingan (Atom)
